Sinopsis:
Pak Ud atau Kyai Yusuf Hasyim adalah cerminan hidup dari Ekosistem Kebudayaan Pesantren Tebuireng, sebuah mikrokosmos peradaban tempat dialektika ilmu, kebudayaan, dan spiritualitas bertemu. Tebuireng di bawah kepemimpinan Pak Ud bukanlah sekadar institusi pendidikan ala Pesantren saja, melainkan laboratorium laku kehidupan yang membentuk pendidikan karakter.
Pak Ud menjabat sebagai Patron Budaya yang mempertahankan nilai-nilai luhur masa lalu dan memodernisasi warisan itu dengan adaptasi budaya. Filosofi hidupnya adalah narasi spiritual dan peradaban yang terintegrasi: ia membaca ajaran Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, ayahandanya, sebagai sumur filsafat hidup yang deras mengalir, bukan dogma agama yang dipuja tanpa ruh. Perjuangannya –baik di politik, pendidikan, maupun militer– adalah sebuah Estetika Etis—sebuah perwujudan narasi budaya Jawa “sepi ing pamrih rame ing gawe” dalam ranah publik yang luas. Ia hadir dan berprakarsa dalam setiap gerak-gerik kebudayaan, mulai dari membangun literasi pendidikan dengan menginisiasi berdirinya SMP dan SMA Wahid Hasyim, mendirikan Universitas Hasyim Asy’ari, melahirkan Teater dan Lingkaran Sastra Pesantren, bahkan tampil sebagai Aktor Film berjudul Walisongo.
Sebagai role model, Pak Ud mengajarkan “Urip iku Urup”—kemampuan beradaptasi terhadap gerak zaman dan sekaligus mengambil jarak kontemplatif dari hiruk-pikuk kehidupan, sebuah keterampilan spiritual yang sangat dibutuhkan di Dunia Pesantren. Pak Ud menunjukkan bahwa kekuatan sejati seorang Kyai atau Ulama terletak pada kemandirian intelektual dan keberanian moral untuk menjaga poros kebudayaan Nusantara tetap tegak. Ia adalah penjaga sandhi Tebuireng, memastikan resonansi nilai-nilai pesantren terus berdentang di nadi bangsa.





