Qonun Asasi yang dirumuskan oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari pada tahun 1926 bukanlah sekadar draf hukum organisasi atau teks birokrasi yang beku. la adalah sepotong puisi langit yang membumi, sebuah manifesto spiritual-filosofis, dan jangkar kosmologis yang merekatkan retakan-retakan sosial kemanusian di awal abad ke-20. Kini, ketika teks suci ini genap berusia Satu Abad, gaungnya tidak pernah surt; ia telah bermutasi menjadi kompas moral dan acuan hidup paling fundamental bagi Nahdlatul Ulama, organisasi keagamaan terbesar di dunia yang memayungi lebih dari 145 juta warga NU di seluruh penjuru bumi.
Ketika dunia kontemporer limbung dihantam gelombang disrupsi, otomatisasi, dan involusi makna, teks satu abad ini memanggil kita kembali pada rahim kebudayaan yang luhur dan egaliter. Buku ini membedah Qonun Asasi dengan pisau analisis yang radikal, mendalam, dan multi-dimensional.
Tidak hanya memandang teks ini sebagai warisan domestik kaum
sarungan, buku ini melakukan lompatan epistemik yang berani: menempatkan Qonun Asasi sebagai Memory of the World atau “Warisan Ingatan Dunia”. Melalui pembacaan yang puitis sekaligus kritis, penulis melacak bagaimana prinsip al-ittihad (persatuan), al-taaruf (saling mengenal), dan al-ad/ (keadilan substantif) di dalam teks tersebut sesungguhnya merupakan dokumen kemanusian universal yang setara-bahkan melampaui-maklumat-maklumat sosiologis modern Barat.
“Satu abad berlalu, dan Qonun Asasi tetap menjadi palu godam metafisis yang menghancurkan berhala egoisme sektoral. Di pundak lebih dari 145 juta warga NU, ia bukan lagi sekadar teks sejarah, melainkan piagam perdamaian kosmis yang terus hidup. Membacanya hari ini adalah tindakan membaca masa depan peradaban manusia.”








