Di balik dinamika organisasi Islam terbesar di dunia, kepemimpinan bukan sekadar perkara artikulasi politik atau penguasaan struktural, melainkan tentang kedalaman spiritual dan keteladanan akhlak.
Buku ini menghadirkan refleksi kritis sekaligus napak tilas atas wajah kepemimpinan Nahdlatul Ulama di era Hadratusyaih Hasyim Asy’ari. Di tengah era yang serba cepat dan sarat dengan retorika yang bising, kerinduan akan sosok pemimpin PBNU yang santun—yang mengayomi tanpa menggurui, yang teduh dalam bersikap, dan teguh dalam memegang prinsip keumatan—menjadi semakin mendesak.
Kepemimpinan PBNU kini berada di persimpangan jalan. Ujian polarisasi politik, dinamika media sosial, dan kompleksitas arus global menuntut gaya kepemimpinan yang tak sekadar taktis, melainkan matang secara etis.
Buku ini membedah secara langsung krisis keteladanan yang berisiko mengikis keadaban publik kita. Mengapa kesantunan menjadi kualifikasi mutlak—bukan sekadar kompromi—bagi calon pemimpin PBNU? Melalui analisis historis dan pengamatan realitas jam’iyah, buku ini menyajikan kriteria konkret tentang figur nakhoda yang dibutuhkan untuk menjaga PBNU tetap menjadi benteng kebangsaan yang teduh dan disegani.
Bagaimana sebuah organisasi sebesar Nahdlatul Ulama bertutur di hadapan zaman? Di tengah bisingnya panggung kekuasaan, kesantunan sering kali tergeser oleh retorika yang sengit.
Padahal, dari bilik-bilik pesantren yang teduh, NU dibesarkan dengan kelembutan akhlak dan keadaban yang melintasi generasi.
Buku ini memanggil kembali ingatan kolektif kita tentang sosok kiai yang merangkul tanpa memukul, menasehati tanpa memaki, dan memimpin dengan kerendahan hati. Dicari Pemimpin PBNU yang Santun adalah sebuah perenungan mendalam: bahwa masa depan PBNU tidak hanya ditentukan oleh kepiawaian bertindak, tetapi oleh seberapa jernih nurani dan kesantunan yang dipancarkan oleh para nakhodanya.




